HEADLINE: 105 Dokter Gugur, Sinyal Keletihan Tenaga Kesehatan Melawan COVID-19?
Analisa awal luruhnya beberapa dokter, menurut Adib, tidak cuma sebab alat perlindungan/pelindung diri (APD). Masalah itu bertambah berkaitan pada standarisasi skema service serta peraturan semasa epidemi COVID-19. Termasuk juga masalah beban kerja beberapa dokter yang berat dalam layani pasien COVID-19.
| Pelajaran Berharga Untuk Lampard |
"Oleh karenanya, perlu usaha melakukan perbaikan skema beban kerja tenaga kesehatan serta kesehatan dan babak istirahatnya," jelas Adib seperti info tercatat yang diterima Health Liputan6.com.
Dokter serta tenaga medis bisa memiliki cukup waktu untuk istirahat, hingga hindari berlangsung kecapekan. "Saat diterpa kecapekan, tenaga kesehatan akan beresiko tinggi terkena COVID-19," lanjut Adib.
Adib mengutamakan keutamaan usaha penskalaan (mapping) tersedianya sarana kesehatan (faskes) serta sdm (SDM). Ini jadi bekal dalam lihat berapa besar kekuatan semasing daerah untuk mengatasi pasien COVID-19.
"Mapping tersedianya faskes serta SDM berbasiskan kewilayahan harus dilaksanakan untuk memandang persiapan serta kekuatan daerah, hingga bisa dilaksanakan upaya-upaya mengantisipasi atau penjagaan," lebih Adib yang Wakil Ketua Umum PB IDI ini.
Adib menjelaskan, sekarang ini semua tenaga kesehatan serta kesehatan memang berpotensi efek yang serupa untuk terkena COVID-19.
"Ditambah lagi paparan transmisi lokal di warga lumayan tinggi dan pasien tanpa ada tanda-tanda bertambah," kata Adib.
Ada banyak efek yang mengakibatkan tenaga kesehatan terkena COVID-19. "Pertama, implikasi beban jam kerja serta waktu istirahat yang belum maksimal, hingga menimbulkan efek burn out (situasi yang memvisualisasikan perasaan ketidakberhasilan serta kelesuan) dan kecapekan," jelas Adib.
Jam kerja terlalu berlebih membuat beberapa tenaga kesehatan kurang istirahat, yang bisa mengubah imunitasnya. Ditambah lagi angka morbiditas serta kematian tenaga kesehatan, khususnya di delapan propinsi (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Papua) yang memberi 74 % masalah terverifikasi positif COVID-19.
"Tingginya angka testing serta terverifikasi positif diiringi dengan angka keterpakaian tempat tidur (bed occupancy rate) perawatan rumah sakit berefek pada kekuatan efek overload serta overcapacity rumah sakit," lanjut Adib.
Seirama dengan Adib, Pengurus Pusat Ikatan Pakar Kesehatan Warga Indonesia Hermawan Saputra menjelaskan masalah COVID-19 telah overcapacity hingga membuat tenaga medis khususnya dokter terforsir hingga imunitasnya turun.
"Terkait dengan ketahanan badan, ditambah lagi depresi kerja, selanjutnya gampang terkena virus," jelas Hermawan.
"Ini memberi risiko kecapekan fisik serta mental, yang dapat berlangsung pada tenaga kesehatan, hingga tingkatkan efek terkena COVID-19 semakin tinggi."
Ke-2, sebagai pemicu efek tenaga kesehatan terkena COVID-19 terkait dengan tata atur ruangan. Tata atur ruangan dalam praktek service kesehatan perlu tersedianya ruang desakan negatif yang oke.
"Ventilasi yang baik, exhaust (alat percepat perputaran udara) serta air purifier (alat menjernihkan udara) dengan hepa filter (penyaring) harus jadi peraturan standarisasi," tuturnya.
"Maksudnya kurangi paparan virus, yang berbuntut turunkan trending loading (jumlah partikel virus yang masuk di badan). Ini terkait dengan design sarana kesehatan dalam service yang dibuat spesial hadapi virus.
Hermawan sampaikan jalinan langsung di antara dokter dengan pasien positif di ruang-ruang rumah sakit yang tertutup, misalnya ruangan operasi membuat dokter rawan terkena. Ini sesuai informasi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) tentang peluang transmisi COVID-19 lewat udara (aerosol) di ruangan tertutup beberapa lalu.
"Nah, itu bisa mengontaminasi beberapa tenaga medis ya, sebetulnya bukan hanya dokter, perawat sama," papar Hermawan.
Ke-3, masalah efek tenaga kesehatan terkena COVID-19, yaitu penapisan atau skrining yang kurang ketat. Bila bisa saja perlu didukung kontrol PCR.
Ke-4, praktek tenaga kesehatan yang berumur di atas 60. "Seharusnya ada limitasi praktek service pada barisan tenaga kesehatan umur di atas 60 tahun, ditambah jika memiliki penyakit komorbid," tutur Adib.
Ke-5, menyinggung tersedianya alat pelindung diri (APD). Jika APD bermutu selalu harus ada. Pemakaian APD juga perlu dibantu dengan menggunakan serta melepas secara benar.
Unsur pemakaian alat pelindung diri yang dipakai dengan cara kurang pas serta waktu kerja tenaga medis yang panjang disoroti oleh pandemiolog dari Kampus Indonesia Tri Yunis Miko.
"Kemungkinan jika semua telah gunakan (APD, -red.), permasalahannya jam kerjanya kelebihan di Indonesia. Oleh sebab kelebihan karena itu kecapekan serta pada akhirnya abai. Itu jadi unsur pemicu jumlahnya tenaga medis, jumlahnya dokter Indonesia wafat," tutur Tri Yunis, dikontak Kamis, 3 September 2020.
Pemakaian APD yang kelamaan, menurut Tri Yunis, berefek pada ketahanan badan beberapa tenaga kesehatan. Ketahanan badan menyusut itu membuat beberapa tenaga kesehatan rawan terkena COVID-19.
Sesaat, kecuali mengatakan tiga peluang pemicu tenaga kesehatan Indonesia berguguran, Hermawan lihat terdapat beberapa unsur yang yang lain sama-sama berkaitan. Dalam pemikiran yang bertambah luas, hal tersebut adalah jalinan di antara kebijaksanaan yang tidak konsekwen serta persisten serta perlakuan epidemi yang relatif lamban.
Hermawan memberikan contoh, ketentuan limitasi sosial bertaraf besar (PSBB) dengan arti tansisi atau seimbang yang menurut dia tidak efisien. Adanya PSBB peralihan itu, semua bagian seperti transportasi, perkantoran, pabrik serta wilayah rekreasi kembali lagi dibuka serta beberapa tempat itu condong penuh serta ramai. Hal tersebut tentu saja berefek pada usaha penjagaan penebaran COVID-19.
Lalu, Hermawan memandang, perlakuan COVID-19 di Indonesia relatif lamban. "Kita melihat detection rate kita masih 46 % dari keseluruhan spesimen yang harusnya kita dapat check, kita baru berada di tenggang di antara 25 ribu-30 ribu spesimen /hari. Karena itu peningkatan masalahnya di antara 2.500-3.000-an saat ini, jadi belum benar-benar relevan. Walau sebenarnya masalah di atas lapangan itu mengagumkan tinggi."
Hermawan mengibaratkan lebih dari 100 dokter wafat sebab COVID-19 itu tidak ubahnya kejadian gunung es yang bongkahan besarnya belum terarah serta teridentifikasi secara baik.
"Nah, berikut rintangan pengaturan COVID-19 di Indonesia yang keterikatan di antara health sistem capacities kita, kebijaksanaan perlakuan. Dan yang paling penting ya pasti sikap individu serta warga," katanya.
Meskipun begitu, Hermawan menjelaskan tidak dapat seutuhnya mempersalahkan sikap individu serta warga semasa usaha penjagaan yang dilaksanakan berbentuk anjuran.
"Anjuran itu terkadang ada yang nurut tetapi semakin banyak yang tidak nurut."
Kementerian Kesehatan RI ikut sampaikan duka cita dalam atas luruhnya beberapa pahlawan klinis yang terjangkiti serta jadi korban ditengah-tengah perjuangan menangani epidemi COVID-19.
"Kemenkes mengharap ke depan tidak lagi ada tenaga medis yang luruh dalam mengatasi COVID-19," kata Kepala Tubuh Peningkatan serta Pendayagunaan SDM Kesehatan Kemenkes RI, Abdul Kadir.
Kadir menjelaskan jika Kemenkes terus memberi suport pada tenaga medis yang terjebak dalam perlakuan COVID-19, diantaranya melalui tersedianya APD.
"Kemenkes memberi perlindungan buat tenaga medis dengan masih jamin tersedianya APD serta fasilitas prasarana buat rumah sakit," tuturnya.
Lalu, kesejahteraan tenaga medis yang bekerja mengatasi COVID-19 mendapatkan stimulan. Pemerintah menganggarkan Rp5,6 triliun untuk stimulan tenaga medis yang mengatasi COVID-19. Sekitar Rp1,9 triliun diurus Kementerian Kesehatan sesaat Rp3,7 diurus Kementerian Keuangan.
Buat tenaga medis yang luruh, Kemenkes memberi santunan pada keluarga yang dibiarkan sebesar Rp300 juta.
"Ini untuk animo serta penghormatan dari pemerintah Indonesia pada yang luruh untuk pahlawan kesehatan," kata Kadir dalam dalam Doa Bersama-sama dan Hening Cipta untuk Keselamatan Dokter Indonesia pada Rabu, 2 September 2020.
Saat diberi pertanyaani tentang usaha yang dilaksanakan Kemenkes supaya tidak ada dokter yang wafat, Kadir belum dapat menjawab sebab tengah rapat bersama-sama anggota DPR pada Kamis, 3 September 2020, sore.
Lihat jumlahnya dokter yang wafat pendiri Kawal COVID-19 Ainun Najib menjelaskan jika kita untuk bangsa tidak dapat membuat perlindungan mereka.
Ainun mengumpamakan jika tenaga medis ialah tameng atau pelindung warga dari paparan virus.
"Mereka ialah tameng kita dari epidemi ini tetapi malah kita untuk bangsa gagal membuat perlindungan mereka. Baik kita untuk warga yang kurang disiplin ikuti prosedur kesehatan atau dari lembaga yang semestinya membuat perlindungan mereka."
Pengadaan APD serta beberapa jenis prosedur perlu dilihat lagi serta dinaikkan buat kurangi efek paparan virus pada tenaga medis.
Hermawan menjelaskan, hadapi virus Corona harus dengan usaha penjagaan, semasa belum diketemukan vaksin atau obat buat COVID-19. Akan beresiko bila warga abai pada usaha itu.
Dalam hadapi epidemi virus Corona SARS-CoV-2, Hermawan merekomendasikan supaya negara tidak semata-mata membuat benteng (beberapa tenaga medis serta infrastruktur kesehatan), tetapi menguatkan pasukan infanteri di garis perlawanan yaitu warga.
"Jadi, sebaiknya warga, baik dengan cara individu atau komune, diperkokoh berbasiskan RT/RW, kampung, kelurahan atau desa yang disana ada kerjasama di antara pimpinan resmi, seperti kades, lurah, RT/RW dengan tenaga medis warga," papar Hermawan.
Cara barusan diistilahkannya untuk community based fighting initiative.
"Serta ini karakternya primary prevention, penjagaan yang penting. Karenanya jika peranan dokter itu kan peranan menjaga serta menyembuhkan, paling akhir sekali. Orang terserang sakit baru terkait sama dokter dan sebagainya, khususnya terkait dengan COVID-19."
Penguatan penjagaan COVID-19 pada tingkat warga ini jadi kunci. Hermawan memandang, cara penjagaan itu telah diakui tetapi penerapan di atas lapangan belum begitu kuat.
"Jika mengharap dokter, perawat, faskes, berapa juga kemampuan kita hadapi kebiasaan COVID-19 yang cepat ini, akan bobol . Serta bisa banyak yang terkena dan kemungkinan berguguran. Kita tidak kehendaki hal tersebut. Tapi jika kita belajar dari beberapa negara di penjuru dunia yang lain juta-an masalah, nah kaitannya tentu akan naik angka kematian, termasuk juga nakes ."
Sesaat, Tri Yunis memberikan perhatian pada pukul kerja beberapa tenaga medis. Menurut dia, jam kerja beberapa nakes janganlah sampai lebih dari enam jam. Setelah enam jam, harus bertukar dengan tenaga medis yang lain.
Namun, sekarang ini hal tersebut terhalang oleh jumlah tenaga medis yang terbatas. Karena itu, seirama dengan Hermawan Saputra, Tri Yunis ajak warga untuk lakukan penjagaan penyebaran COVID-19.
"Oleh karenanya mari bersama, penduduknya harus menahan janganlah sampai sakit. Dokternya jadi cukup. Jika banyak yang sakit, kan dokternya tidak akan cukup. Perawatnya tidak akan cukup. Jadi warga membantulah tenaga medis dengan gunakan masker, jaga jarak, serta membersihkan tangan," katanya.
Disamping itu, Tri Yunis mengharap Pemerintah bertambah arif dalam menanggapi epidemi COVID-19.
Bila dibanding dengan data kematian tenaga kesehatan di luar negeri dari Amnesty International's Pantauan, dapat nampak begitu tenaga kesehatan jadi korban infeksi COVID-19.
- Amerika Serikat
Negara ini masih menempati di tempat satu dunia dengan masalah verifikasi COVID-19 paling tinggi yaitu 6.011.042 seperti menyaksikan data dari situs WHO, pada Jumat (4/9/2020) jam 1 WIB.
Ada 1.077 jiwa tenaga medis wafat per 1 September 2020, data dari Center for Disease Control and Prevention (CDC). Menurut CDC, itu juga cuma data dari tenaga kesehatan tercatat yang cuma seputar 23,45 % dari keseluruhnya.
- Meksiko
Ada 1.320 tenaga medis wafat per 25 Agustus 2020. Pemerintah Meksiko sudah menulis data komplet kematian tenaga kesehatan, termasuk juga sudah dipilah berdasar umur, tipe kelamin, serta karier.
Tingginya angka kematian tenaga kesehatan di negara yang bersebelahan dengan Amerika Serikat ini sebab masalah di Meksiko tinggi yaitu masuk ke 10 rangking paling banyak masalah COVID-19 dengan 606.036.
- Inggris
Sekitar 649 tenaga medis wafat per 20 Juli 2020, data dari Office for National Statistics (ONS). Pada Jumat, 4 September 2020 jam 1 WIB, di situs WHO memperlihatkan ada 337.172 masalah verifikasi COVID-19 di negara ini.
- Brasil
634 tenaga medis wafat per 25 Agustus 2020, data dari Cofen, SIMESP. Negara denagn masalah paling banyak ke-2 sesudah AS, per 4 September 2020 telah ada 3.950.931 orang terkena COVID-19.
- Rusia
Amnesty International's Pantauan tenaga kesehatan capai 631 jiwa per 12 Agustus 2020. Sekitar 1.005.000 orang di negara ini yang terkena virus SARS-C0V-2 per 4 September 2020 jam 1 WIB.
- India
Indian Medical Association mengatakan ada 87.000 tenaga kesehatan di India terkena serta 573 wafat. Per 4 September 2020 jam 1 WIB, telah 3.853.406 orang terkena COVID-19 di India.
- Afrika Selatan
Seputar 240 tenaga medis wafat per 4 Agustus 2020, data dari South Africa Department of Health. Per 4 September 2020 jam 1 WIB, telah 630 ribu orang terkena COVID-19 di Afrika Selatan.
- Iran
Tertera 164 tenaga medis wafat per 23 Agustus 2020, data dari Menteri Kesehatan Iran. Per 4 September 2020 jam 1 WIB, telah 378.752 orang terkena COVID-19 di Iran.
- Italia
Data dari Medscape, FNOMCeO, sekitar 188 tenaga medis wafat per 2 Juli 2020. Telah ada 270 ribu orang terkena virus SARS-CoV-2 di sini.
- Filipina
Data dari Medscape 34 jiwa per 12 Agustus 2020. Per 4 September 2020 jam 1 WIB, telah 226.440 orang terkena COVID-19 di negara ini.
- Osaka, Jepang
Tertera ada tiga orang yang wafat per 22 Juni 2020, data dari Osaka Medical Association. Ke-3nya adalah dokter klinik yang tidak paham jika pasien yang dia rawat positif Covid-19.
"Mereka ialah dokter yang menjaga pasien tanpa ada ketahui jika pasien itu terkena virus," kata Shigeto Shigematsu, ketua Perkumpulan Klinis Osaka, dikutip dari Asahi.
- Thailand serta Malaysia
Tertera di semasing negara ada dua orang per 12 Agustus 2020 yang wafat sebab COVID-19, data dari Medscape. Per 4 September 2020 jam 1 WIB, telah 347 orang terkena COVID-19 di Thailand serta Malaysia 9.360.
- Korea Selatan serta Australia
Tertera 1 tenaga medis di semasing negara di atas wafat per 12 Agustus 2020, data dari Medscape. Per 4 September 2020 jam 1 WIB, telah ada 20.644 orang terkena COVID-19 di Korea Selatan serta di Australia 25.923.
